Contoh cara penyusunan proposal Skripsi untuk
mahasiswa UNSYIAH LENGKAP
Ini Untuk Halaman Cover Yha...
PROPOSAL
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG
MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE NUMBERED HEAD TOGETHER
(NHT) DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MODEL KLASIKAL
NAMA ANDA
JANGAN LUPA NIM ANDA
JANGAN LUPA NIM ANDA
LOGO UNSYIAH
KEMUDIAN ALAMAT KAMPUS LENGKAP
BAB I
A. Judul
“Perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang
menggunakan model pembelajaran cooperative learning type numbered heads
together dengan menggunakan model biasa”
B. Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam
menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pendidikan senantiasa
berkenaan dengan manusia, dalam pengertian sebagai upaya sadar untuk membina
dan mengembangkan kemampuan dasar manusia seoptimal mungkin sesuai dengan
kapasitasnya.
Proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah pada dasarnya
adalah kegiatan belajar mengajar, yang bertujuan agar siswa memiliki hasil yang
terbaik sesuai kemampuannya. Salah satu tolak ukur yang menggambarkan tinggi
rendahnya keberhasilan siswa dalam belajar adalah hasil belajar. Hasil belajar
dapat di lihat dari tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, aspek
psikomotor.
Di samping itu, guru berperan sebagai faktor penentu
keberhasilan siswa dalam belajar. Hal ini di tegaskan dalam Undang-undang No. 2
tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatakan bahwa kunci utama
dalam memajukan pendidikan adalah guru, karena guru secara langsung
mempengaruhi, membimbing dan mengembangkan kemampuan peserta didik (siswa) agar
menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.
Salah satu disiplinn ilmu pengetahuan yang memegang peranan
penting dalam kehidupan dan kehadirannya sangat terkait erat dengan dunia
pendidikan adalah Matematika. Matematika perlu dipahami dan dikuasai semua
lapisan masyarakat terutama siswa disekolah. Russefendi (Yusuf, 2003:1)
mengemukakan, “Matematika penting sebagai pembentuk sikap, oleh karena itu
salah satu tugas guru adalah mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik”.
Jhon Dewey (Ibrahim, Muchidin, Djajuri, Wahyudin, Fathoni,
Hernawan, Sukirman, Sanjaya, Susilana, Sulityo, Darmawan, Rusman, 2002:76)
mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa
oleh dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya. Disini
tugas guru menyediakan bahan pelajaran tetapi yang mengolah dan mencerna adalah
para siswa sesuai dengan bakat, kemampuan dan latar belakang masing-masing.
Sesuai yang di kemukakan oleh Sardiman (1986:98), belajar adalah berbuat dan
sekaligus merupakan proses yang membuat anak didik harus aktif.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan
yang ingin dicapai melalui pembelajaran matematika di jenjang SMP adalah: (1)
memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat,
melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti,
atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) memecahkan masalah yang
meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan
model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengomunikasikan gagasan
dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah, dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
(Depdiknas, 2006:346). Berdasarkan tujuan tersebut tampak bahwa arah atau
orientasi pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah
matematika. Kemampuan ini sangat berguna bagi siswa pada saat mendalami
matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari, bukan saja bagi mereka yang
mendalami matematika, tetapi juga yang akan menerapkannya baik dalam bidang
lain (Ruseffendi, dalam Nurardiyati, 2006:2).
Namun kenyataan di lapangan, proses kegiatan belajar
mengajar di kelas, pembelajaran mata pelajaran eksak tertutama Matematika
responnya kurang baik. Seperti yang di kemukakan Ruseffendi (Yusuf, 2003:2),
Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran
yang tidak di senangi kalau bukan pelajaran yang di benci.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sardiman (1986:85) hasil
belajar akan optimal kalau ada motivasi dan motivasi dapat berfungsi sebagai
pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi
dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga
yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat di tercapai.
Begitu juga dalam belajar matematika menurut Hudojo
(1988:100), apabila seorang peserta didik mempunyai motivasi belajar
matematika, ia akan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga ia mempunyai
pengertian yang lebih dalam. Ia dengan mudah dapat mencapai tujuan. Ini
menunjukan keberhasilan itu dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.
Sebaliknya, suatu kegagalan dapat menghasilkan harga diri turun, yang berarti
motivasinya turun.
Bila pemahaman terhadap materi-materi matematika yang
dipelajari dapat tercapai. Maka akan timbul motivasi bersama dengan proses
untuk mencapai keberhasilan belajar matematika. Dengan kata lain, keberhasilan
belajar matematika tidak hanya karena dapat memahami konsep dan teorema serta
kemudian dapat mengaplikasikannya, melainkan juga karena kehendak, sikap dan
macam-macam motivasi yang lain.
Selain itu keberhasilan belajar dapat dipengaruhi oleh guru
sendiri, dimana guru masih menerapkan system yang menuntut guru sendiri yang
aktif dibandingkan dengan siswa. Sebagaimana yang diungkapkan pleh John Locke
dan Herbert (Sardiman, 1986:1997), dalam proses belajar mengajar guru akan
senantiasa mendominasi kegiatan. Siswa selalu pasif, sedangkan guru aktif dan
segala inisiatif datang dari guru.
Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari suatu model
pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa. Dari hasil kegiatan penulis model pembelajaran kooperatif memiliki
peluang untuk mengatasi hal tersebut. Menurut Robert Slarin (Munjiali, 2004:6),
Pembelajaran Kooperatif yaitu semua metode pembelajaran yang melibatkan para
siswa pembelajar untuk bekerja sama dalam belajar, dimana semua anggota
kelompok bertanggung jawab bagi diri pembelajar sendiri. Kelebihan dari model
pembelajaran kooperatif menurut Looning (Suhena, 2001:6) pembelajaran
kooperatif mempunyai beberapa kelebihan di antaranya :
a. Reaksi siswa terhadap
belajar yang terbuka cukup baik
b. Pertisipasi aktif siswa
lebih mudah dikembangkan
c. Langkah-langkah yang
ditempuh dalam kegiatan belajar mengajar sangat sistematis dan lebih mudah
ditetapkan
Ada beberapa pembelajaran kooperatid, salah satunya
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together. Pembelajaran ini di
kembangkan oleh Spenser Kagen (1993). Dengan melibatkan siswa dalam suatu
pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka terhadap isi dari pelajaran itu.
Menurut Ibrahim (2002) ada empat tahap dalam pelaksanaan
Numbered Head Together yaitu : penomoran, mengajukan pertanyaan, berfikir
bersama dan menjawab.
C. Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan dalam
penelitian ini dirumuskan dan dibatasi sebagai berikut :
“Apakah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan
model mengajar Cooperatif Learning Tipe Numbered Head Together lebih baik dari
pada yang menggunakan model pembelajaran biasa di kelas VII dengan standar
kompetensi Menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn dalam pemecahan masalah
?”
D. Tujuan Penelitian
Peneilitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil
belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Cooperatif
Learning Tipe Numbered Head Together lebih baik dari pada yang menggunakan
model pembelajaran biasa.
E. Pentingnya Masalah
Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat
memberikan masukan dan bermanfaat bagi :
1. Bagi siswa
a. Sebagai acuan dalam
meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.
b. Sebagai acuan dalam
mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.
c. Sebagai acuan dalam
membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika karena
materi dikaitkan dengan konteks keseharian siswa dan lingkungan dunia nyata
siswa.
2. Bagi guru
a. Meningkatkan
kemampuan guru dalam menggunakan suatu model pembelajaran, serta dapat
meningkatkan kualitas proses pembelajaran
b. Sebagai masukan
pertimbangan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa dengan
pembelajaarn kooperatif tipe NHT.
c. Dapat lebih
menciptakan suasana kelas yang menghargai (menghormati) nilai-nilai ilmiah dan
termotivasi untuk terbiasa mengadakan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi
perbaikan dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan guru itu
sendiri.
3. Bagi sekolah
Dengan adanya strategi pembelajaran yang baik maka mampu
mewujudkan siswa yang cerdas dan berprestasi.
4. Bagi peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan untuk menjadi seorang pendidik
kelak dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan
proses dan hasil belajar siswa.
F. Definisi Operasional
1. Model Cooperaative Learning
Tipe Numbered Head Together
Model Numbered Head Together (NHT) adalah bagian dari model
pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktu-struktur
khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan
menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok
kecil secara kooperatif.
2. Model Pembelajaran Biasa
Model pembelajaran biasa adalah pengajaran yang pada umumnya
biasa dilakukan sehari-hari. Guru lebih aktif dari siswa, sedangkan siswa hanya
menerima materi tanpa adanya timbal balik antara guru dan siswa dalam belajar.
Cara menyampaikan materi dengan ceramah, Tanya jawab, dan demonstrasi.
G. Studi Literatur
1. Perbandingan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah Perbandingan
berasal dari kata “ Banding “ yang artinya tara, sama, tolok.
Membandingkan artinya menilik apa persamaan/perbedaan antara dua barang, dua
hal,, dll. Sedangkan perbandingan berarti upaya membandingkan dua hal untuk
diketahui kelebihan ataupun kekurangannya.
2. Pengertian Hasil Belajar
Matematika
a. Belajar
Untuk memperoleh pengertian yang objektif tentang belajar
terutama belajar disekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar.
Pengertian belajar sudah banyak di kemukakan oleh para ahli psikologi
pendidikan. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu
proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut akan nyata
dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai
suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Koffka dan Kohler dari Jerman bahwa belajar adalah
“adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh response yang tepat untuk
memecahkan problem yang di hadapi”. (Slameto, 2003:9)
Selain itu menurut R.Gagne bahwa belajar adalah “proses
untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah
laku dan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari instruksi”.
(Slameto, 2003:9)
Senada dengan itu menurut Thorndike bahwa belajar
adalah “pembentukan hubungan atau koneksi antar stimulus dan respon dalam
penyelesaian masalah (problem solving) yang dilakukan dengan cara coba-coba”
(Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2006:127)
Dikemukakan juga oleh Nana Sudjana bahwa belajar adalah
“perubahan tingkah laku . perubahan yang disadari dan timbul akibat praktek,
pengalaman, latihan bukan secara keseluruhan” ( Nana Sudjana, 1989:5)
Sementara itu, Drs.Widodo dan Dra.Endang Poerwanti
mendefinisikan pengertian belajar yaitu “suatu proses yang terjadi pada
seseorang yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan itu misalnya tidak tahu
tentang sesuatu perbuatan tertentu menjadi bisa melakukan. Dapat pula perbuatan
itu di karenakan adanya unsur yang berupa latihan-latihan. Bila perubahan
terjadi pada individu tersebut merupakan usaha atau latihan maka perubahan itu
bukan merupakan hasil belajar”.(Siti Hasnah.H, 2003:8)
Dari uraian singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah suatu proses penerimaan informasi untuk memperoleh motivasi dalam
pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku yang timbul akibat
praktek, pengalaman dan latihan. Proses ini membutuhkan kesiapan yang matang
dan merupakan salah satu bentuk cara untuk mempelajari matematika.
b. Matematika
Matematika adalah ilmu pengetahuan yang bersifat deduktif
aksiomatik yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol yang
tersusun secara hirearkis. Matematika juga merupakan bahasa simbolis untuk
mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan yang memudahkan
manusia berfikir dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
Pengertian matematika dikemukakan oleh banyak ahli dalam
bukunya H.Erman Suherman, dkk antara lain :
James dan James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan
bahwa “matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran
dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dalam jumlah yang
banyak yang terbagi kedalam 3 bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri”.
Selain itu , Johnson dan Rising ( 1972) dalam bukunya
mengatakan bahwa “matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan,
pembuktian yang logik. Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah
yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat. Representasinya dengan
simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai
bunyi”.
Kline (1973) dalam bukunya mengatakan pula bahwa “matematika
itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri,
tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan soaial, ekonomi dan alam”.
Hal senada dikemukakan Soleh dalam (Siti Hasanah.H,
2003:9) yang mengemukakan pengertian matematika sebagai berikut :
1. Matematika sebagai cara komunikasi. Matematika memilih
lambang-lambang, nama-nama, istilah-istilah yang dapat dijadikan sumber bahasa.
Kita dapat menerjemahkan suatu ungkapan dalam bahasa Indonesia menjadi ungkapan
dalam bahasa matematika.
2. Matematika sebagai cara berfikir nalar
memungkinkan siswa selalu berfikir kritis terhadapa suatu kenyataan.
3. Matematika sebagai alat pemecah masalah karena matematika
memiliki metode pembahasan baik dengan gambar maupun dengan lambang, diagram
atau grafik, maka masalah dalam kehidupan sehari-hari atau masalah keilmuan
dapat diterjemahkan kedalam bahasa matematika selanjutnya karena matematika dapat
diolah untuk mencapai pemecahan dari suatu masalah.
Dari uraian singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa
matematika adalah ilmu tentang logika mengenai pola berpikir untuk membantu
manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan baik itu masalah sosial,
ekonomi dan alam.
1. Matematika sekolah
Matematika yang diajarkan di jenjang persekolahan seperti di
SD, SMP, SMA disebut matematika sekolah. Dalam buku materi pelatihan
terintegrasi, ( 2005 : 21 ) dijelaskan bahwa matematika sekolah adalah unsur-unsur
atau bagian dari matematika yang dapat menata nalar, membentuk kepribadian,
menanamkan nilai-nilai, memecahkan masalah, dan melakukan tugas-tugas tertenntu
yang berorientasi pada perkembangan pendidikan dan perkembangan IPTEK.
Matematika yang diajarkan di sekolah mencakup 4 aspek penyajian yaitu :
a. Penyajian Matematika
Penyajian matematika di sekolah disesuaikan dengan perkiraan
perkembangan intelektual siswa. Matematika yang disajikan dikaitkan dengan
realitas yang ada disekitar siswa, sehingga siswa lebih mudah memahami materi
yang dipelajarinya. Dalam mengkaitkan antara konsep dan realitas yang ada
disekitar dibutuhkan perantara benda konkret sebagai wakil dari representasi.
b. Pola pikir matematika
Pola pikir yang digunakan pada metamatika sekolah pada
umumnya adalah pola pikir induktif. Pola pikir induktif yang digunakan
dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa.
c. Keterbatasan semesta
Konsep yang diajarkan disesuaikan dengan perkembangan
intelektual siswa. Semakin meningkat usia siswa, maka semakin meningkat juga
tahap perkembangannya, maka semesta pembicaraan lebih diperluas lagi.
d. Tingkat keabstrakan
Objek matematika sekolah bersifat abstrak. Tingkat
keabstrakan ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual siswa.Pada
jenjang sekolah dasar sifat konkret objek matematika diusahakan lebih banyak
dari pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang sekolahnya,
semakin banyak sifat abstraknya. Sehingga pembelajaran tetap diarahkan pada
pencapaian kemampuan berpikir abstrak para siswa.
c. Hasil belajar
Pengertian hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari apa
yang terjadi dari kegiatan belajar baik di kelas, disekolah maupun diluar
sekolah. Untuk dapat mengetahui apakah pembelajaran yang dilakukan berhasil
atau tidak dapat ditinjau dari proses pembelajaran itu sendiri dan hasil
belajar yang dicapai oleh siswa. Pembelajaran dikatakan berhasil jika terjadi
perubahan pada diri siswa yang terjadi akibat belajar. Hasil belajar dapat
diketahui dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru.
Hasil belajar didefinisikan oleh ahli-ahli psikologi
pendidikan diantaranya :
A.J.Romiszowski mengemukakan bahwa hasi belajar adalah
“keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan(input). Masukan dari
sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah
perbuatan atau kinerja (performence)”.(Dr. Mulyono Abdurrahman, 2003:38)
John.M.keller mengemukakan bahwa hasil belajar adalah
“prestasi aktual yang ditampilkan oleh anak. Sedangkan usaha adalah
perbuatan yang terarah pada penyelesaian tugas-tugas belajar”.(Dr.Mulyono
Abdurrahman, 2003:39)
Sedangkan menurut R.Gagne hasil belajar dikategorikan
kedalam 5 kategori, yaitu informasi verbal, kemahiran intelektual(diskriminasi,
konsep, kaidah, prinsip), pengaturan kegiatan kognitif, sikap, ketrampilan
motorik.
Dimana:
a. Informasi verbal
adalah tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dapat diungkapkan
melalui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain.
b. Kemahiran intelektual yaitu
kemampuan seseorang berhubungan dengan lingkungannya dan dirinya sendiri.
1. Diskriminasi jamak adalah
kemampuan seseorang dalam membedakan antara objek yang satu dengan objek yang
lain.
2. Konsep yaitu satuan arti
yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama.
3. Kaidah adalah dua konsep
atau lebih jika dihubungkan satu sama lainnya maka terbentuklah suatu ketentuan
yang mewakili suatu keteraturan
4. Prinsip adalah terjadinya
kombinasi dari beberapa kaidah sehingga terbentuklah suatu kaidah yang lebih
tinggi dan kompleks.
c. Pengaturan kegiatan
kognitif yaitu kemampuan yang dapat manyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri.
d. Sikap yaitu sikap
tertentu seseorang terhadap suatu objek.
e. Keterampilan motorik
yaitu seseorang yang mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam
urutan tertentu dengan mengarahkan koordinasi anatara gerak-gerik berbagai
anggota badan secara terpadu. (Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2006:17)
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia : “ Hasil Belajar
adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan di sekolah atau Perguruan Tinggi yang
bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian”.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar matematika adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan
aktivitas mental untuk memahami arti dari struktur-struktur, hubungan-hubungan,
Simbol-simbol yang ada dalam materi pelajaran matematika sehingga menyebabkan
perubahan tingkah laku pada siswa.
3. Model Cooperaative Learning
Tipe Numbered Head Together
Pembelajaran kooperatif sebagai sebuah pola atau rancangan
yang disebut strategi pembelajaran, maka model pembelajaran kooperatif dalam
pelaksanaannya dikelas memiliki manfaat sebagaimana dijelaskan oleh Ibrahim at
all. (2000:18-19), yakni:
a. Meningkatkan
pencurahan waktu pada tugas,
b. Rasa harga diri menjadi
lebih tinggi,
c. Angka putus sekolah
menjuadi rendah,
d. Penerimaan terhadap perbedaan
individu menjadi lebih besar,
e. Memperbaiki
kehadiran,
f. Perilaku mengganggu
menjadi lebih kecil,
g. Konflik antar pribadi
berkurang,
h. Sikap apatis berkurang,
i. Pemahaman yang
lebih mendalam,
j. Motivasi lebih
besar,
k. Hasil belajar lebih tinggi,
dan
l. Meningkatkan
kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.
Ada beberapa macam pembelajaran kooperatif, salah satunya
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together. Number Head Together (NHT)
adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa
dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang
akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan
oleh Spencer Kagan dkk (1993).
Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif
struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa
bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari sruktur kelas
tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk
oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini
menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam
mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008).
Menurut Kagan (2007) model pembelajaran NHT ini secara tidak
langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan
cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif
dalam pembelajaran.
Menurut Ibrahim (2002) ada empat dalam pelaksanaan NHT yaitu
:
a. Penomoran
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap
ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan
tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa dalam tim
mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.
b. Pengajuan Pertanyaan
Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan
kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran
tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan
dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat
kesulitan yang bervariasi pula.
c. Berpikir Bersama
Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa
berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota
dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing
pertanyaan.
d. Pemberian Jawaban
Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan
setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan
menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih
kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang
nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri
untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban
tersebut.
Sebagaimana dijelaskan oleh Hill (1993) dalam Tryana (2008)
bahwa model NHT memiliki kelebihan diantaranya dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa, mampu memperdalam pamahaman siswa, menyenangkan siswa dalam
belajar, mengembangkan sikap positif siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan
siswa, mengembangkan rasa ingin tahu siswa, meningkatkan rasa percaya diri
siwa, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan keterampilan
untuk masa depan.
MenurutMeilan Selly Putriana S.T(2009) NHT mempunyai kelebihan
dan kelemahan. Kelebihan NHT adalah sebagai berikut:
1) Menyebabkan siswa aktif
dalam menjawab pertanyaan,
2) Melatih siswa berani dalam
menyampaikan pendapat dan berani bicara di depan kelas,
3) Memotivasi dalam belajar,
4) Melatih siswa untuk
bekerjasama dan menghargai pendapat teman dalam kelompok.
Sedangkan kelemahan NHT adalah
1) Pengkondisian kelas kurang
2) Waktu pembelajaran yang
diperlukan menjadi lebih panjang
4. Pembelajaran Model Biasa
Menurut Ruseffendi (1991:350), pengajaran biasa adalah
pengajaran pada umumnya yang bisa dilakukan sehari-hari. Dimana pada
pembelajaran klasikal ini guru mengajar sejumlah siswa dalam ruangan yang
kemampuannya memiliki syarat minimum untuk tingkat itu. Maka guru lebih aktif
dari siswa, sedangkan siswa hanya menerima materi tanpa adanya timbal balik
antara guru dan siswa didalam belajar.
Pada model pembelajaran biasa menurut Ruseffendi (1991:351)
guru mengajar siswa secara kelompok dalam ruangan kelas yang banyaknya siswa
sekitar 30 – 40 orang. Maka guru tidak dapat memperhatikan semua kepentingan
siswa satu persatu dalam belajar. Bahkan dalam pembelajaran klasikal adanya
pengelompokan perlakuan dalam belajar. Dalam artian individu yang mempunyai
kemampuan yang tinggi mendapat perlakuan yang lebih dari guru. Sedangkan siswa
yang mempunyai kemampuan rendah mereka mendapat perlakuan yang kurang. Ini
menunjukan bahwa kepentingan setiap individu tidak dapat diperhatikan.
Ruseffendi (1991:351) mengatakan : “Kebanyakan guru pada
umumnya mengajar berdasarkan kemampuan siswa pada umumnya, baik kecepatan
mengajarnya maupun tingkat kesukaran materi yang diajarkannya”. Jadi guru
menyamaratakan semua kemampuan siswa dalam satu kelas. Dan materi yang dipilih
disesuaikan dengan kemampuan siswa pada umumnya.
Menurut Xpresiriau (2009) Yang dimaksud dengan pembelajaran
matematika secara biasa adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang selama ini
kebanyakan dilakukan oleh guru dimana guru mengajar secara klasikal yang di
dalamnya aktivitas guru mendominasi kelas dengan metode ekspositori, dan siswa
hanya menerima saja apa-apa yang disampaikan oleh guru, begitupun aktivitas
siswa untuk menyampaikan pendapat sangat kurang, sehingga siswa menjadi pasif
dalam belajar, dan belajar siswa kurang bermakna karena lebih banyak hapalan.
Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran biasa sebagai
berikut :
1. Kelebihannya adalah :
a. Dapat meningkatkan
keterampilan-keterampilan dasar tertentu pada siswa
b. Dapat diikuti oleh siswa
yang banyak
c. Mudah dipersiapkan
dan dilaksanakan
d. Guru mudah menerangkan
pelajaran dengan baik
2. Kelemahannya adalah :
a. Siswa kurang aktif
dalam pembelajaran, karena guru yang aktif dan siswa hanya menyimak dari
pelajaran dari guru
b. Membuat jenuh dan
membosankan siswa, bila digunakan terlalu lama
c. Guru sukar
menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik dalam pembelajaran
d. Tidak memberikan kesempatan
siswa untuk aktif dan berfikir kritis dalam memahami materi pembelajaran
H. Hipotesis
Berdasarkan studi literature dan permasalahan yang telah di
rumuskan pada bagian sebelumnya, hipotesis dalam penelitian ini adalah
hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan Model Cooperative Learning
Type Numbered Head Together lebih baik dari pada yang menggunakan model
pembelajaran cara biasa.
I. Metode dan Disain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen karena adanya manipulasi perlakuan dimana kelas yang satu mendapat
pembelajaran penelitian Cooperative Learning tipe NHT, dan kelas yang lain
mendapat pembelajaran biasa pada awal dan akhir pembelajaran kedua kelas di
beri tes, sehingga disain penelitiannya adalah sebagai berikut :
A
: O1 X1 O1
A
: O2 X2 O2
Dengan :
A
: Pemilihan sampel secara acak berdasarkan kelas
X1 : Pembelajaran dengan menggunakan model
cooperative learning tipe Numbered Head Together
X2 : Pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran biasa
O1 : Tes hasil belajar menggunakan model
NHT
O2 : Tes hasil belajar menggunakan model
pembelajaran biasa
J. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah
tingkat Pertama (SMP) Negeri 2 Pakisjaya Karawang, sedangkan sampelnya diambil
dua kelas dimana kelas yang satu adalah kelas eksperimen dan kelas yang lain
adalah kelas control. Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kelas VII
A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII B sebagai kelas Kontrol. Alasan
dipilihnya sampel di kelas VII A dan VII B adalah karena tingkat perkembangan
pendidikan dan cara berpikir siswa di kelas tersebut tidak terlalu tinggi dan
tidak terlalu rendah, serta berdasarkan hasil nilai ulangan harian dan
nilai-nilai tes lainnya tidak terlalu jauh perbedaan antara kelas keduanya di
bandingkan dengan kelas yang lain. Juga peneliti ingin mengetahui sejauh mana
metode kooperatif bisa di terapkan.
K. Instrumen Penelitian
Yang menjadi instrument dalam penelitian ini adalah
seperangkat soal tes berbentuk uraian (essay test atau subjective test) yang
terdiri dari 5 butir soal. Instrument di kembangkan sendiri oleh peneliti,
karena peniliti memberikan soal sesuai dengan keadaan siswa dan sesuai dengan
materi yang di telah sampaikan atau di bahas sehingga di harapkan hasilnya
lebih signifikan. Agar memiliki validitasi isi maka soal-soal tersebut di
konsultasikan terlebih dahulu dengan dosen pembimbing. Setelah itu agar
memiliki validitas empiris soal-soal tersebut di uji cobakan pada kelas sampel,
kelas control dan bukan kelas keduanya. Kemudian dihitung validitas,
reliabilitas, daya beda pembeda dan indeks kesukarannya.
1. Validitas
–
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto, 2002:
144). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara
tepat.Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan
sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang
dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.
–
Untuk menghitung validitas tes menggunakan rumus Korelasi Product Moment Karl
Pearson sebagai berikut :
Keterangan
rxy : Koefisien korelasi antara vasiabel x dan variable y
X : Skor siswa pada tiap butir soal
Y : Skor Total
N : Jumlah peserta tes
–
Klasifikasi : rxy menurut Guilford yaitu :
0,00 – 0,20 = Kecil
0,20 – 0,40 = rendah
0,40 – 0,70 = sedang
0,70 – 0,90 = tinggi
0,90 – 1,00 = sangat tinggi
–
Kriteria: rxy≥ rtab tes dinyatakan valid
2. Reliabilitas
Menurut Sudijono (2001:95) mengatakan bahwa sebuah tes hasil
belajar dapat dinyatakan reliable apa bila hasil-hasil pengukuran yang
dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara berulang kali terhadap subyek
yang sama senantiasa menunjukan hasil yang tepat sama atau sifatnya ajeg dan
stabil. Dengan demikian suatu ujian dikatakan telah realibitas (=daya keajekan
mengukur) apabila skor-skor atau nilai-nilai yang diperoleh para peserta ujian
untuk pekerjaan ujiannya adalah stabil kapan saja dimana saja dan oleh siapa
saja ujian itu dilaksanakan, diperiksa dan dinilai.
Untuk menentukan realibitas tes menggunakan rumus Alpa
sebagai berikut :
dengan
sehingga : ∑S1= Sa2+ S122+….
Sedangkan St2 =
Keterangan : rn = Koefisien reliabilitas
tes
n = banyaknya butir soal
l = bilangan konstan
Si2 = varians skor tiap butir soal
St2 = varian soal
Kriteria: rn≥ maka tes tersebut reliable
rn < 0.70 maka tes tersebut reliable
3. Daya Pembeda
Daya pembeda yaitu kemampuan suatu butir soal untuk dapat
membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan rendah. Untuk menghitung daya
pembeda tiap butir soal menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan : D = Indeks daya
pembeda
JBA = Jumlah skor kelompok atas
JBB = Jumlah skor kelompok bawah
JSA = Jumlah siswa kelompok atas
SMI = skor maksimal ideal
Kriteria
: D ≤
0,00 =
sangat kurang
0,00 < D > 0,20 = kurang
0,20 < D > 0,40 = cukup
0,40 < D > 0,70 = baik
0,70 < D > 1,00 = sangat baik
4. Indeks Kesukaran
Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar pertama-tama
dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh
masing-masing butir item tersebut. Menurut Witherington (Sudijono, 2001:317)
mengatakan bahwa sudah atau belum memadainya derajat kesukaran item tes hasil
belajar dapat diketahui dari besar kecilnya angka yang melambangkan tingkat
kesulitan dari item tersebut. Untuk menghitung indeks kesukaran menggunakan
rumus sebagai berikut :
Keterangan : IK = Indeks
Kesukaran
JBA = Jumlah skor kelompok atas
JBB = Jumlah skor kelompok bawah
JSA = Jumlah siswa kelompok atas
SMI = skor maksimal ideal
Kriteria
: IK = 0,00 =
terlalu sukar
0,00 < IK > 0,20 = sukar
0,20 < IK >
0,40 = sedang
0,40 < IK >
0,70 = mudah
0,70 < IK >
1,00 =
terlalu mudah
L. Prosedur Penelitian
Dalam prosedur penelitian penulis melakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu
mengamati permasalahan yang terjadi di kelas tempat peneliti melakukan
penelitian, kemudian menuangkan permasalahan tersebut kedalam bentuk proposal
skripsi, kemudian di seminarkan dan dengan beberapa perbaikan, penyempurnaan
proposal dapat di selesaikan, membuat RPP, instrument penelitian (pembuatan LKS
dan latihannya, pembuatan soal kuis, pembuatan perangkat tes serta kunci
jawabannya) menyiapkan ijin penelitian, menguji coba instrument.
2. Tahap Pelaksanaan
Penulis membagi pelaksanaan menjadi tiga tahap yaitu
a. Pemberian Tes awal /
Pretes
Tes awal diberikan sebelum dilakukan perlakuan pembelajaran
tipe NHT pada kelas eksperimen dan pembelajaran langsung pada kelas Kontrol.
b. Pelaksanaan perlakuan atau
pembelajaran
Pada awal pelaksanaan tes awal sampel atau subyek di bagi ke
dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang akan menggunakan model
pembelajaran koopertif tipe NHT dan kelompok kontrol yaitu kelompok yang
menggunakan model pembelajaran biasa. Pada tahap pertama kedua kelompok
tersebut melakukan tes awal dengan soal yang sama. Pada tahap kedua, kelompok
di bedakan perlakuan pembelajarannya. Selama tiga kali pertemuan.
1) Perlakuan pada kelas
Eksperimen
Pembelajaran pada kelas eksperimen meliputi beberapa tahap :
a) Pendahuluan, meliputi
kegiatan apersepsi, motivasi, menginformasikan prosedur pembelajaran yang akan
dilaksanakan, memberikan acuan bahan belajar yang akan disajikan dan tujuan
pembelajaran yang akan di capai.
b) Memberikan pembelajaran
dengan model NHT, yaitu dengan membentuk kelompok 4-6 orang yang heterogen.
Setelah pembagian kelompok, selanjutnya adalah memberikan penomoran. Guru
memberikan pertanyaan kepada siswa dan pertanyaannya dapat bervariasi, kemudian
siswa mengajukan pendapatnya terhadap pernyataan itu dan meyakinkan setiap
anggota dalam timnya untuk mengetahui jawabannya. Guru memanggil satu nomor
tertentu, kemudian siswa yang nomornya sama harus mengacungkan tangannya dan
mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. penutup, diakhiri dengan
meyimpulkan materi dan mengakhiri kegiatan.
Penulis menggunakan perincian sebagai berikut :
a) Lima menit pertama
menjelaskan tentang tujuan pembelajaran baik tujuan umum maupun khusus
b) Sepuluh menit kedua membagi
kelompok dan memberikan penomoran
c) Lima belas menit ketiga
memberikan bahan ajar atau materi
d) Dua puluh menit ke empat siswa
diberikan kesempatan untuk mengerjakan soal-soal dalam kelompok
e) Sepuluh menit kelima
pembahasan soal-soal dari nomor yang telah di panggil
f) Lima menit terakhir
penutup dengan menyimpulkan materi dan mengakhiri kegiatan.
2) Perlakuan pada kelas
Kontrol
Pembelajaran pada kelas control meliputi beberapa tahap :
a) Pendahuluan, meliputi
kegiatan apersepsi, motivasi, menginformasikan materi yang akan disajikan dan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
b) Melaksanakan pembelajaran
model biasa, yaitu berupa ceramah, Tanya jawab dan latihan soal.
c) Penutup, diakhiri dengan
kegiatan mengerjakan soal yang sama dengan kelas eksperimen.
c. Pelaksanaan tes akhir
Pemberian tes akhir dilakukan setelah tiga kali pertemuan
pada kelas eksperimen maupun kelas control dengan soal yang sama pada kedua kelompok.
3. Tahap Evaluasi
Dilakukannya pre tes sebelum perlakuan dan dan setelah
perlakuan
Tujuannya adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa yang
pembelajarannya menggunakan cooperative learning tipe NHT apakah lebih baik
daripada yang menggunakan pembelajaran model biasa ?. Dengan cara membandingkan
hasil dari kedua kelas yang menggunakan masing-masing model pembelajaran
tersebut.
TAHAP PERSIAPAN
BAGAN PROSEDUR PENELITIAN
TAHAP PELAKSANAAN
a. Pemberian tes awal /
prestes
b. Pelaksanaan perlakuan atau
pembelajaran
1. Perlakuan pada kelas
eksperimen
2. Perlakuan pada kelas
kontrol
c. Pelaksanaan tes akhir
TAHAP EVALUASI
M. Prosedur Pengolahan data
Data hasil dari penelitian ini diolah dengan menggunakan
MINITAB 14 dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Uji Normalitas data
Uji normalitas data pretes dan postes dilakukan untuk
mengetahui normal tidaknya distribusi nilai pretes dan postes. Uji normalitas
ini menggunakan uji Kolmogorov-mirnov yang berguna untukmenguji apakah suatu
sampel berasal dari suatu populasi dengan distribusi tertentu, terutama
distribusi normal.
H0 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
H1 : Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi
normal
Adapun penentuan kesimpulan berdasarkan probabilitas sebagai
berikut :
Jika probabilitas (p) > 0,05, maka H0 : diterima
Jika probabilitas (p) < 0,05, maka H1 : ditolak
2. Uji Homogenitas Varian
Uji homogenitas dilakukan jika kedua kelompok berdistribusi
normal, yaitu dengan menguji varian kedua kelompok menggunakan uji F. pengujian
tersebut untuk mengetahui apakah varians kedua kelompok sama tau berbeda.
Sedangkan jika kedua kelompok berdistribusi tidak normal maka dilakukan
pengujian non parametik.
H0 : Sampel kedua varians adalah sama
H1 : Sampel kedua varians adalah berbeda
Peneliti menggunakan 2 varian pada sampel in different
columns. Dengan ketentuan :
Jika probabilitas > 0,05 maka H0 : diterima
Jika probabilitas < 0,05 maka H0 : ditolak
3. Uji Signifikan perbedaan
rata-rata
Uji signifikan perbedaan rata-rata digunakan untuk menguji
perbedaan rata-rata kelas eksperimen dan kelas control.
H0 : Rata-rata nilai kedua sampel adalah sama
H1 : Rata-rata nilai kedua sampel berbeda
Pengujian ini menggunakan 2 sampel t pada sampel in
different columns. Dengan ketentuan :
Jika probabilitas > 0,05 maka H0 : diterima
Jika probabilitas < 0,05 maka H0 : ditolak
N. Jadwal Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. (2002). Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Depdikbud (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga,
Jakarta : Balai Pustaka
Hudojo, H (1988) Strategi Mengajar Belajar Matematika.
Jakarta : Depdikbud
Ibrahim, dan Sudjana (2009). Penelitian dan Penilaian
Pendidikan. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Kagan. 2000. Cooperative Learning Structure. Numbered Heads
Together, (Online), http://Alt.Red/clnerwork/numbered.htm (5 Desember 2007).
Kagan. 2007. Numbered Heads Together, (Online),
http://www.eazhull.org.uk/ nlc/numbered_heads.htm, (5 Desember 2007).
Lamadi, Ardi, (Online),
http://ardi-lamadi.blogspot.com/2010/02/kerangka-teori-dan-hipotesis-tindakan.html
(24 Oktober 2010)
Munjiali, (2004). Kelompok Kerja Guru. Makalah pada
Pelatihan Guru Sekolah Dasar
Rahayu, Sri, (Online),
http://pelawiselatan.blogspot.com/2009/03/number-head-together-html (4 Januari
2009)
Russefendi, (1991) Pengantar Kepada Pembantu Guru
Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan
CBSA. Bandung : Tarsito.
Sardiman, (1986). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta : CV. Rajawali
Sudijono, H (2001) Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT Raja
Grafindo Persada
Suhena, E (2001) Pembelajaran Keterampilan Proses Matematika
Melalui Belajar Kooperatif. Tesis Pada Program Studi Pendidikan Matematika
Universitas Pendidikan Indonesia : Tidak diterbitkan
Tryana, Antin. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Numbered Heads Together (NHT)
Xpresiriau,(Online)
http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/pembelajaran-konvensional (27
Oktober 2010)
Yusuf, M (2003) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Teams Game Tournament Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika. Skripsi
Pada Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia :
tidak diterbitkan
0 Comment to "CONTOH PROPOSAL SKRIPSI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNSYIAH"
Posting Komentar